Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Mei 2012

Observasi: Tugas 'Spesial'

Halo, dunia!

Gue pengen berbagi mengenai sebuah tugas nih, sebuah tugas yang cukup 'menyenangkan'.

Pada tanggal 12 Mei 2012, mata kuliah Psikodiagnostik diganti dari hari senin minggu depan, menjadi hari sabtu minggu tersebut. Berhubung gue udah berniat dan menjadwalkan diri untuk ikutan lecture sulap dari sebulan sebelumnya, terpaksalah gw nggak ikutan mata kuliah tersebut. Masih ada kok absennya, hoho.

Waktu itu udah sempet ijin juga sama Mas Seta untuk nggak ikutan mata kuliah (walaupun tetep diitung absen, sih..) tapi Mas Seta menjanjikan ada tugas khusus bagi mahasiswa yang nggak ikutan kuliah pada hari itu.

Hari seninnya, dengan riang gembira gue mengumpulkan tugas dari yang seminggu sebelumnya via email, sambil bertanya tentang tugas bagi mereka yang nggak masuk. Gue baru sempet ngecek email hari kamis, berhubung beberapa hari sebelumnya disibukkan oleh beberapa kegiatan.

Ketika gue melihat balasan tugasnya, mata gue langsung terbelak, sempat terjungklang hampir jatoh dari kursi ketika ngeliat tugas yang diberikan.

Sabtu, 07 April 2012

Mati Lampu dan Coping Stress

Halo! Udah lama nih nggak update tentang kehidupan pribadi. Ini blog kan isinya nggak cuman artikel yang bermanfaat, tapi juga perjalanan kehidupan seorang manusia super-duper-ganteng-banget-sangkin-ganteng-nya-cewek-pun-segan-mendekati. Mungkin itulah kenapa gue masih single sekarang.

Anyway, beberapa hari ini seringkali mati lampu di rumah gue. Alasan dibalik mati lampu tersebut? Tentunya mati dari pusatnya. Tapi ada hal yang agak ingin gue protes soal mati lampu. Bukan, bukan! Gw tidak menyalahkan bagaimana PLN pusat terpaksa memadamkan listrik yang membuat lampunya mati dan membuat gue mati jadi mati gaya di rumah.

Tapi kenapa orang menggunakan term 'mati lampu' atas ketiadaan listrik yang bersifat sementara di dalam rumahnya?

Logically, kalo cuman lampu aja yang mati, berarti masih bisa dong main elektronik yang lain seperti: Laptop, TV, Playstation, atau kursi pijat elektronik. Tapi, penggunaan dua kata ini yaitu 'mati' dan 'lampu' membuat sebuah jargon bahwa kalo lampunya mati, semua listrik padam.

Again, logically makna dari 'mati lampu' hanyalah ketiadaan cahaya dari sebuah benda yang bernama lampu. Tidak bisa! Indonesia harus kembali ke jalan yang benar! Apa yang akan terjadi bila jargon ini terus menyesatkan anak cucu kita? Bisa-bisa akan terdapat jargon yang lebih aneh dari apa yang ada saat ini! Hal ini tidak bisa dibiarkan! Interupsi, pimpinan..

Ehh, jadi kebawa sidang dramatisir kemarin. #ups
Oke, back to topic..

Minggu, 01 April 2012

Psikodiagnostik

Well, psikodiagnostik adalah sebuah mata kuliah yang berhubungan dengan pengukuran dalam psikologi. Psikodiagnostik bertujuan untuk mengukur dan mengetahui keadaan jiwa seseorang. Pada awalnya psikodiagnostik ini hanya bertujuan untuk mengukur perilaku abnormal saja, tapi dengan berkembangnya masa, jadi banyak pula hal-hal yang bisa diukur dalam psikodiagnostik. Kalo dulu cuman bisa mengukur perilaku abnormal dari seorang manusia seperti: Attention Deficit Hyperactivity Disorder, Compulsive Obsessive Disorder, atau Post-Traumatic Stress Disorder. Kemudian berkembang juga menjadi bisa mengukur tingkat kecerdasan, karakter, dan perilaku individu. Seperti apa yang gue temukan saat ngerjain tugas kemaren, ternyata ada loh alat tes yang bisa mengukur tingkat asosial seseorang. Wow!

Psikodiagnostik yang gue pelajari saat ini adalah merupakan pengenalan tentang alat-alat tes dalam psikologi. Sekedar info, selain mengukur dengan alat tes, para psikolog juga bisa mengukur dengan observasi dan wawancara. Kedepannya sih bakalan ada juga mata kuliah namanya konstruksi alat tes, tapi itu nanti lagi setelah gue melewati mata kuliah lainnya yang pastinya nggak kalah seru (baca: sulit dimengerti, tapi kalo udah mengerti gue menjadi sangat-sangat puas).

Oke, kembali kita membicarakan tentang abnormalitas. Bagaimana sih yang disebut abnormal itu?

Jumat, 16 Maret 2012

Karena Psikologi Ingin Dimengerti

Di suatu hari yang indah, kamu sedang berbicara oleh orang yang baru saja kamu kenal...

Stranger: “Mas, kuliah jurusan apa?”
Gue: “Psikologi.”
Stranger: “Wah, bisa baca saya, dong?”
Dan, kemudian hening...

Ini adalah satu dari sekian percakapan yang pasti pernah dialami oleh mahasiswa, dosen, dan praktisi psikologi se-Indonesia. Kalimat sebelumnya tentu didukung oleh fakta yang dikumpulkan secara tidak ilmiah dan data yang tidak faktual.

Tapi ngaku, deh. Kamu yang telah membaca percakapan diatas pasti pernah berada di situasi seperti itu, kan? Minimal, ketika kamu membacanya, kamu telah tersenyum, tertawa kecil atau bahkan geleng-geleng melihat percakapan diatas (loh, kok jadi terkesan maksa ini? Abaikan, abaikan).

Bila ilmu Psikologi seorang manusia, mungkin dia udah bikin lagu berjudul Karena Psikologi Ingin Dimengerti. Makanya, untuk ‘sedikit’ menghibur psikologi yang sedang galau, saya ingin ‘sedikit’ sharing nih tentang psikologi! Persiapkan diri anda, buka pikiran anda, and here we go...


Psikologi versi alay: KnP c11h QmOh 9k mW n9eRti1n QuwH?